Shahibus Samahah Dato Dr. MAZA
Menyelami Khazanah Syariat, Melampaui Sekat Mazhab — Karena Fiqh Bukan Hitam-Putih, Tapi Luas dan Penuh Hikmah, Berlandas Dalil Bukan Sekadar Tradisi
PENGHALANG PELAKSANAAN HUDUD DI NEGARA-NEGARA ISLAM
Shahibus Samahah Dato Dr. MAZA
RASUAH & HUKUMAN MATI: ANTARA TA’ZIR DAN PILIHAN TERAKHIR
🌿 Pengantar
Dalam wacana penegakan hukum, isu hukuman mati selalu memicu perdebatan sengit. Ada yang menolaknya atas nama hak asasi manusia, ada yang mendukungnya demi efek jera. Namun, pertanyaan menjadi semakin kompleks ketika dibawa ke ranah syariat: apakah Islam membenarkan hukuman mati bagi kesalahan seperti rasuah?
Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Syariat memiliki garis tegas pada kejahatan tertentu yang hukumannya tetap, seperti qisas bagi pembunuhan. Tapi untuk kesalahan lain, termasuk rasuah, syariat memberi ruang kepada pemerintah untuk menetapkan hukuman (ta’zir)—yang dalam kondisi tertentu, bahkan dapat mencapai hukuman mati—jika terbukti itu satu-satunya cara menutup pintu kerosakan besar dalam masyarakat.
📚 Faedah Lengkap
-
Pertanyaan Awal
-
Topik dimulai dengan pertanyaan: apakah Islam membenarkan hukuman mati bagi pelaku rasuah/korupsi?
-
Penjelasan perlu dimulai dari prinsip dasar hukum dalam syariat Islam.
-
-
Jenis Hukuman dalam Syariat
-
Hudud & Qisas: Hukuman yang telah ditetapkan secara tegas dalam Al-Qur’an dan Sunnah, seperti qisas (balas bunuh bagi pembunuhan) yang disebut dalam QS. Al-Baqarah: 179.
-
Dalam qisas, pelaksanaan hukuman mati hanya gugur jika keluarga korban memaafkan. Hanya keluarga korban yang berhak memberi maaf, bukan pihak lain.
-
-
MENGAPA DALAM ISLAM ADA BAB JIHAD DAN HUDUD
Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA
Mufti Negeri Perlis
JIHAD DAN HUKUM ISLAM
Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA
Mufti Negeri Perlis
WAJAH MUSUH TIDAK DIPUKUL, APATAHLAGI ANAK ISTERI
1. Islam menghormati kedudukannya insan yang mana Allah telah tegaskan kemuliaannya dalam al-Quran pada Surah al-Isra ayat 70:
۞ وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِيٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ كَثِيرٖ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلٗا ٧٠
(maksunya) “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.
2. Atas penghormatan kepada keturunan Adam, maka Nabi s.a.w melarang kita memukul, menampar ataupun mencederakan wajah ataupun muka sesama insan sekalipun di medan peperangan. Ini kerana muka merupakan tempat kemuliaan seseorang.
NAS HADIS
Dalam hadis yang sahih Nabi s.a.w bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ
Daripada Abu Hurairah RA, daripada Nabi SAW bersabda: “Apabila seseorang kamu berperang, jauhilah dari (mencederakan) muka”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
APAKAH UNDANG-UNDANG CIVIL TIDAK ISLAMI
SISTEM PELAKSANAAN HUKUM ISLAM
Mufti Kerajaan Negeri Perlis
MENGAPA DUNIA TIDAK RESPECT DENGAN HUKUM ISLAM
BERINTERAKSI DENGAN HUKUM ISLAM
Mufti Kerajaan Negeri Perlis
HUKUM ISLAM DAN KEINDAHAN DALAM PELAKSANAANNYA
HUKUM ISLAM DAN IMPLEMENTASINYA
Oleh:
Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA
Mufti Kerajaan Negeri Perlis